Dialogpublik.com,-Sebuah pemandangan mengharukan di gedung DPRD Kabupaten Bandung. Dalam suasana yang begitu hangat dan ramah, jajaran Komisi D DPRD membukakan pintu gedung megah milik rakyat ini lebar-lebar menyambut kedatangan anak-anak pejuang Thalasemia bersama Yayasan ReDTI dan IPSM Jawa Barat, Selasa (29/9/2026).
Kunjungan tersebut menjadi momen bersejarah dan membahagiakan, karena anak-anak hebat itu dapat mengenal lebih dekat rumah aspirasi mereka. Rombongan yang dipimpin pengurus Yayasan ReDTI, perwakilan IPSM Jawa Barat Atep Kusman, serta para orang tua dan anak-anak penderita Thalasemia diterima langsung di ruangan badan musyawaran (Bamus).
Rapat kerja dipimpin Sekretaris Komisi H. Dudi Mustofa dengan didampingi beberapa orang anggota dan staf sekretariat.
Dengan tutur kata yang sangat santun dan penuh perhatian, Dudi menyampaikan rasa hormatnya atas kehadiran tamu-tamu istimewa tersebut.
Ia menjelaskan, bahwa Ketua DPRD Kabupaten Bandung, Hj. Renie Rahayu Fauzi tidak bisa hadir untuk menerima kehadiran mereka, karena tengah menjalankan ibadah umroh.
Namun, sebelumnya memberikan amanah khusus kepada Komisi D untuk menyambut rombongan anak – anak penderita Thalasemia itu dengan pelayanan terbaik.

“Melalui kunjungan dan aspirasi tertulis ini, kami siap mengkoordinasikannya dengan Ketua DPRD. Kami akan mendukung penuh demi anak-anak hebat ini agar mereka mendapatkan hak serta kasih sayang yang sama seperti anak-anak lainnya,” ujarnya.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap beban para orang tua penderita thalasemia Komisi D berkomitmen penuh memperjuangkan ketersediaan stok darah.
Menurutnya, dewan akan berkoordinasi intensif dengan PMI Kabupaten Bandung. Selain itu, DPRD akan mendorong untuk mengalihkan kepesertaan BPJS Kesehatan pasien thalasemia dari jalur mandiri menjadi Penerima Bantuan Iuran (PBI) APBD.
“Pengalihan BPJS kesehatan dari jalur mandiri menjadi ke jalur PBI untuk meringankan beban ekonomi keluarga mereka,” ucapnya.
Sementara itu, Anggota Komisi D, Agus Setiawan menjelaskan bahwa masa depan dan keberlangsungan hidup para pejuang thalasemia adalah prioritas kemanusiaan. Untuk itu, pihaknya siap memperjuangkan agar anak-anak yang sempat putus sekolah bisa kembali mengenyam pendidikan, serta mendorong program pemberdayaan ekonomi bagi para orang tuanya.
“Pendidikan adalah hak dasar bagi setiap anak. Mengenai pemberdayaan orang tua, kami siap mengordinasikannya dengan dinas terkait seperti Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Kesra. Sebab, inilah komitmen tugas kami di Komisi D untuk selalu hadir bagi masyarakat,” tuturnya.
Sebelumnya, Ketua Yayasan ReDTI, Hendi Resmawan, menyampaikan aspirasi tertulis terkait berbagai kegiatan sosial yang telah dijalankan, seperti donor darah, antar-jemput pasien, home visit, home schooling, dan santunan, yang saat ini masih membutuhkan ulur tangan donatur tetap.
Perwakilan IPSM Jawa Barat, Atep Kusman, menyampaikan apresiasinya atas kepedulian DPRD Kabupaten Bandung. Ia berharap wakil rakyat dapat melahirkan regulasi khusus serta kebijakan pro-thalasemia dan bisa menjadi pilot projek (contoh) bagi kabupaten dan kota lain di Indonesia. (nk)










