Drs Djaka Chaerul : Cabang Olahraga Sepak Bola Binaan Askab Kuningan Terancam Dibekukan

CABANG olahraga sepak bola Kuningan yang pernah berjaya di era tahun 1985 an dengan meraih prestasi sebagai juara 1 Pemuda Cup KNPi se-Jawa Barat, juara dua Divisi II PSSI, Runner-Up Porda XI di Bandung (2010) dan harus puas meraih medali perunggu di Porda XIII Bogor (2018). Terancam dibekukan oleh PSSI/ Assosiasi Sepak Bola Indonesia, akibat ketua Askab Kuningan,diduga tidak men-jalankan program pembinaan kepada atlet sepak bola.

Kepala Dinas Pemuda & Olahraga/Pariwi-data Kab Kunngan Drs Djaka Chaerul ketika dikonfirmasi di kantornya di jalan raya Ciloa Kramatmulya Senin siang (25/2/2019), membenarkan bahwa, cabang olahraga sepak bola binaan Askab Kuningan terancam dibekukan akibat tidak ada pergerakan yang bisa membangkitkan dan memberi semangat para atlet, tandasnya.

Hal itu diperparah dengan kekecewaan atlet, yang seharusnya menerima uang kadeudeuh dari Bupati/Koni Kuningan ternyata oleh Ketua Askab/bendahara tidak disalurkan kepada yang berhak. Mereka (atlet) berunjuk rasa dan berteriak menuntut haknya. Ini sungguh keterlaluan dan melukai atlet yang sudah berjuang maksimal di event Porda XIII Bogor, imbuhnya.

Dalam kaitan ini, dimohon kepada Koni untuk mengambil sikap tegas, sebelum terjadi pembekuan. Masalah ini jelas mencoreng nama baik organisasi. “Itulah akibatnya manakala Cabor dipegang oleh orang yang tidak bahkan tidak faham/tidak mengerti Olahraga, hasilnya bukan kemajuan tapi sebaliknya menambah keterpurukan”, papar Djaka Chaerul.

Sepak bola adalah cabor Olah Raga yang mayoritas digemari masyarakat. Selain digemari juga merupakan olah raga yang banyak diminati fans (bobotoh-Red) dan banyak penggemarnya, sehingga sepak bola jadi idola dimanapun.

Kuningan pernah mengalam zaman keemasan di didunia persepakbolaan, dulu terkenal dentn club Garuda, PS KNPI tampil sebagai juara satu se-Jawa Barat, Pesik tampil sebagai juara Kompetisi Divisi II Nasional se-Jabar dan tdk pernah absen mengikuti kompetisi Divisi II Jabar serta menggelar kompetisi antar club PESIK yang diagendakan setiap tahun.

Namun sangat disesalkan dewasa ini sepak bola di Kuningan makin tenggelam, sementara di kabupten/kota di Jawa barat justru semakin ramai dan berkembang pesat, tutur mantan atlet sepak bola yang mengantar PS KNPI Juara Piala Pemuda (1985).

“Ironisnya justru makin terpuruk akibat tidak berjalanya..ASKAB merupakan Organisasi pemegang mandat penuh kekuasaan sepak Bola di Kuningan justru tidak pernah aktif menggelar kompetisi tahunan bahkan tidak pernah ikut liga III jabar yang yg merupajan kewajiban setiap kab untuk mengikutinya”, tegasnya.

Dampak dari mandulnya pengurus Askab, otomatis harus menelan pil pait dan menanggung risiko bahwa, kabupaten/kota yang tidak aktif kompetisi maka risikonya, akan dibekukan dan diambil alih oleh ASPROP Jabar.

Dengan begitu cabor sepak bola dari Kuningan tidak boleh ikut kejuaraan sepakbola di bawah PSSI dan Asprop serta kejuaraan lainya, sungguh memprihatinkan dan membuat kecewa para atlet dan penggemar sepak bola di Kuningan.

Solusi untuk membangkitkan kembali sepak bola di Kunngan, kata Djaka Chaerul, sudah saatnya pihak koni ambil sikap jangan mengorbankan SSB dan persepakbolaan di Kuningan dipegang oleh orang yang tidak punya rasa tanggungjawab, bila tidak sanggup lebih baik mundur saja sebagai ketua. Kami minta kepada Koni untuk segera mengadakan ‘Muskab Luar Biasa’ (KLB) untuk Askab sebelum sanksi hukuman pembekuan jatuh ke Kuningan, ujarnya.

Secara terpisah Sujono aktivis di PBSI, juga meminta kepada Ketua-ketua Cabor yang tidak mampu mengembangkan dan memajukan atletnya untuk berprestasi sebaiknya secara kesatria mundur saja, tegas dia. (H WAWAN YR).

dialogpublik.com