Coffee Trade Market 2026, Momentum UMKM Bandung Naik Kelas

Dialogpublik.com,– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung terus memperkuat sektor ekonomi kreatif dan perkebunan unggulan melalui gelaran Bandung Bedas Coffee Trade Market 2026.

Kegiatan itu, merupakan festival kopi terbesar di Kabupaten Bandung yang rencananya akan digelar di Dome Bale Rame, Soreang pada Jumat 26 Juni 2026, besok.

Event bertajuk “Bandung Bedas, Kopi untuk Dunia” menjadi panggung strategis dalam memperkenalkan kualitas kopi unggulan Kabupaten Bandung ke pasar nasional hingga internasional.

Pada kegiatan itu, bukan hanya menyuguhkan pameran kopi, tetapi juga dirancang sebagai ruang kolaborasi bisnis, edukasi, kompetisi barista, hingga hiburan masyarakat.

Bandung Bedas Coffee Trade Market 2026 akan menghadirkan sejumlah agenda utama, mulai dari business matching, coffee exhibition, kompetisi barista, coffee experience, hingga live music dan hiburan yang dikemas dalam festival selama tiga hari.

Kabupaten Bandung sendiri dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi unggulan di Jawa Barat, khususnya dari kawasan pegunungan Pangalengan, Kertasari, Pacet, hingga Rancabali yang selama ini menjadi sentra produksi kopi berkualitas.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Bandung, Zeis Zultaqawa menegaskan bahwa suksesnya penyelenggaraan event berskala besar seperti Coffee Trade Market tidak hanya bertumpu pada kualitas produk, tetapi juga kesiapan infrastruktur penunjang.

Kabupaten Bandung miliki icon baru “bola.dunia kopi Kabupaten Bandung mendunia”

Menurutnya, kegiatan itu digelar dalam rangka peresmian Icon Baru ‘Bola Dunia Kopi Kabupaten Bandung. Icon tersebut, sebagai simbol kebanggaan eksistensi kopi Kabupaten Bandung yang sudah mulai dikenal pasar global dan mendunia.

“Betul, kegiatan Bandung Bedas Coffee Trade Market 2026 digelar dalam rangka memperkenalkan kopi Kabupaten Bandung ke pasar dunia, sekaligus peresmian Icon Baru bola dunia kopi Kabupaten Bandung,” jelasnya di Soreang, Rabu (24/6/2026).

Menurut Zeis, infrastruktur menjadi elemen penting dalam mendukung ekosistem ekonomi kreatif dan perdagangan daerah agar berkembang secara maksimal.

“Kami memastikan kesiapan infrastruktur penunjang kawasan event, mulai dari akses jalan, penataan kawasan, hingga fasilitas publik agar kegiatan ini berjalan lancar dan memberikan kenyamanan bagi pengunjung maupun pelaku usaha,” ujar Zeis.

Ia menegaskan, pembangunan infrastruktur tidak hanya berorientasi pada konektivitas, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi lokal, termasuk sektor perkebunan kopi yang menjadi salah satu komoditas unggulan Kabupaten Bandung.

“Kegiatan seperti Coffee Trade Market ini menjadi bukti bahwa infrastruktur dan pengembangan ekonomi daerah harus berjalan beriringan. Dengan akses yang baik, distribusi produk akan lebih mudah, promosi lebih luas, dan daya saing produk lokal semakin meningkat,” tambahnya.

Selain menjadi ruang promosi produk kopi, event itu juga diharapkan menjadi ajang peningkatan kapasitas pelaku UMKM kopi, petani hingga barista lokal agar mampu memperluas jejaring bisnis dan meningkatkan nilai jual produk.

Selain itu, kegiatan tersebut juga mampu memperkuat branding kopi Kabupaten Bandung sebagai bagian dari identitas daerah yang memiliki potensi besar di sektor perkebunan dan ekonomi kreatif.

Dengan mengusung semangat Bandung Bedas, festival tersebut juga menjadi bagian dari strategi mendorong produk lokal agar mampu bersaing di tingkat global.

Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas kopi, dan masyarakat, Bandung Bedas Coffee Trade Market 2026 diharapkan menjadi momentum penting bagi kebangkitan industri kopi Kabupaten Bandung.

Sementara itu, Zeis mengajak agar masyarakat turut hadir dan menjadi bagian dari festival kopi terbesar di Kabupaten Bandung, sekaligus mendukung produk lokal menuju pasar global. (nk)