Masjid dan RS Salman, Pusat Pembangunan Jasmani dan Rohani

BUPATI Bandung H. Dadang M. Naser memancangkan tiang pertama pembangunan Masjid Salman Rasidi. Masjid yang digagas Yayasan Pembina Salman (YPS) Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Badan Wakaf Salman ITB di Desa Sekarwangi, Soreang.

Masjid yang mengawali pembangunan Komplek Rumah Sakit (RS) Salman Hospital, akan mendorong pembangunan spiritual masyarakat Kabupaten Bandung. Menurut Dadang faktor kesehatan, baik jasmani maupun spiritual, turut berkontribusi terhadap peningkatan angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

“Ini adalah investasi akhirat dari Badan Wakaf Salman ITB, para pewakaf (muwakif) dan juga donatur yang sudah menitipkan hartanya untuk kepentingan umat. Saya kira ini bisa menjadi pendorong pembangunan manusia yang lebih baik, terlebih di bulan suci Ramadan,” ujar, Senin (20/5) di Soreang.

Pembangunan masjid tersebut diperkirakan memakan waktu delapan bulan. Namun Dadang berharap bisa dipercepat, agar dapat menjadi pusat kegiatan umat dan dapat memulai pembangunan RS.

Kehadiran RS Salman akan menjadi pelengkap RS yang sudah ada di Kabupaten Bandung, terutama saling mendukung dalam pelayanan kesehatan. “Saya kira kehadiran masjid Salman Rasidi ini akan turut membina spiritual Sumber Daya Manusia (SDM) yang lebih baik. Tentu saya akan dukung dan bantu agar pembangunannya lebih cepat. Selain itu, semoga ini akan bermanfa’at bagi masyarakat dan juga menjadi semangat fisabilillah, bagi semua pihak yang terlibat dalam pembangunan dan pemanfaatan masjid ini,” ucapnya.

Ketua Yayasan Pembinan Masjid (YPM) Salman ITB Prof. Dr. Ir. Suwarno menyebut, pembangunan masjid menjadi langkah awal sebelum memulai pembangunan RS Salman.

Selain sebagai pusat kegiatan umat dan pusat pelayanan kesehatan, berdirinya masjid dan RS akan dilengkapi dengan pusat pembinaan dan pelatihan bidang kesehatan masyarakat, sehingga dapat meningkatkan kemampuan serta kualitas SDM.

Masjid yang memiliki luas tanah 500 m2 dengan luas bangunan 13 x 15 meter rencananya akan memiliki 2 lantai , terdiri dari ruang utama, tempat wudhu, dan toilet, kantor manajemen dan menara. Diperkirakan masjid tersebut dapat menampung sekitar 350 orang jam’ah. Pembangunan mesjid tersebut diperkirakan akan menelan biaya Rp. 3 milyar yang bersumber dari para pewakaf (muwakif) dan donasi jama’ah.

“Kami mencontoh apa yang dilakukan Rasullulah ketika membangun Masjid Quba, saat melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Juga sebagai simbol bahwa pembangunan masjid ini dilandasi semangat spiritual yang tinggi,” ucap Prof. Suwarno.

Sementara pelayanan RS Salman akan mengusung value Safety, Syar’i, Sophisticated, Sustainable dan Hospitality (S4H), sebagai nilai yang menunjukkan komitmen dan integritas tinggi pihaknya dalam melayani masyarakat. RS tersebut berdiri di lahan 16.000 m2 dengan 4 lantai akan menampung 100 tempat tidur.

“Saya sangat berterimakasih kepada Bapak Bupati dan jajaran atas dukungan pembangunan masjid Salman Rasidi ini. Bahkan untuk hal perizinan rumah sakit yang lazimnya memakan waktu hingga 2 tahun, hanya membutuhkan 16 bulan saja,” tuturnya.

Suwarno menjelaskan, hadirnya Masjid dan RS bukan hanya sebagai pusat kegiatan dan pelayanan saja, tetapi akan mempedulikan lingkungan agar limbahnya tidak mengganggu masyarakat sekitar.(nk/hen/bas)

Tags: ,,

dialogpublik.com