Anjasmara : Profesi Dalang Kurang Diminati Kaum Milenial

AAN ANJASMARA, salah seorang dalang muda pendatang baru di Kuningan Jawa Barat, tidak dapat melupakan tanggal 7 Oktober 2015 lalu, karena merupakan hari bersejarah baginya, dimana dia tampil perdana disiang hari bolong di hadapan publik penggemar seni wayang golek.

Dalang muda kelahiran Garawangi Kuningan 9 Oktober 1981 ini, tampil dihadapan publik sebenarnya sudah lebih dari 30 kali, antara lain di acara khitanan, wedding (pernikahan), acara Hari Jadi (HUT) Kuningan, HUT Desa, Sosialisasi uang bersama Bank Indonesia (BI), Ngawangkong bersama Bupati, tahun baru di RCTV live, dan Live RRI Cirebon.

“Aku bangga terhadap kalangan milenial, karena ternyata responsnya cukup bagus terhadap seni tradisional khususnya seni Wayang Golek. Mereka mengapresiasi pagelaran wayang golek dan sangat bagus untuk menjadi apresiator. Namun sangat di sayangkan untuk mempelajari wayang golek apalagi belajar menjadi dalang wayang golek … masih minim”, tutur Suami dari istri tercinta Lia Sri Ekawati saat bincang santai di GK Raksawacana Kuningan Minggu siang (24/2-2019).

“Saya begitu tersanjung saat dipanggil dengan sebutan Dalang oleh orang orang mulai 7 November 2016, ketika itu saya tampil berbarengan acara pagelaran malam hari dan mendapat apresiasi positif dari Djodjo Hamzah sang Maestro Dalang Kuningan yang sempat meraih prestasi sebagai Ki Dalang Pinunjul pada Pasanggiri Dalang se-Jawa Barat di era tahun 1990-an”, kenangnya.

Hanya ucapan terima kasih dan penghargaan yang tiada terhingga kepada Senior saya Ki Dalang Djojo Hamzah, atas arahan dan bimbingannya yang telah mewariskan ilmu pedalangan kepada saya, baik tentang ‘pakem’ dalang, tehnik/cara memainkan wayang maupun vokal sesuai karakter wayang, tutur Aan Anjasmara yang mengaku belajar dari sang maestro dalang Djojo Hamzah pada tahun 2014.

“Dari 30 kali tampil, tercatat beberapa judul/lakon yang di sajikan, antara lain Asmara Rudira, Jaka Wira Patra, Sri Intan Runikmi, Dewi Kalimantara, Jaka Tambilung, Tri Tunggal Jaya Sampurna, Semar Dipenta Kuncung, Gareng-Gering dan beberapa lakon yang bernafas religious”, ungkapnya.

Selain vokalnya khas diselingi komedi yang menggelitik dan mengundang gelak tawa penonton juga kritikan yang tajam namun tetap segar dan religius.

Sebagai seorang dosen PBSI di FKIP Universitas Kuningan (Uniku), dengan jujur dia mengaku kesulitan membagi waktu di- sela-sela aktivitas rutinnya setiap hari.

Berbagi ilmu dengan mahasiswa di kampus tidak bisa dilepas. “Khususnya mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP Uniku”, terangnya.

Target kedepan seni tradisional wayang golek, jangan sampai tergolek ditempat asalnya. “Sebagai warga Jawa Barat dituntut ngamumule seni tradisional, hal ini penting karena erat kaitannya dengan pelestarian seni wayang golek”, pungkasnya (H WAWAN YR)

Categories: Pariwisata,Pendidikan

dialogpublik.com