Dialogpublik.com,- Produksi sampah di Kabupaten Bandung setiap harinya mencapai 1800 ton, untuk itu pengelolaannya harus ada perubahan (reformasi).
Demikian dikatakan Ketua DPRD Kabupaten Bsndung, Hj.Renie Rahayu Fauzi di Soreang, Sabtu (7/3/2026).
“Dalam pengelolaan sampah itu harus ada perubahan, jadi masyarakat harus ikut dilibatkan. Karena masalah lingkungan, terutama sampah bukan hanya tanggungjawab pemerintah saja, tetapi kewajiban semua pihak termasuk masyarakat,” tegasnya.
Menurutnya, pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga. “Pilah sampah mulai dari dapur. Pisahkan antara yang organik, an organik serta sampah pecahan kaca dan kaleng,” ujarnya.
Oleh karena itu, masyarakat harus diedukasi oleh pemerintahan mulai desa/kelurahan hingga kecamatan. Masifkan kembali soal Lubang Cerdas Organik (LCO), karena manfaatnya relatif besar.
“Jadi sampah sayuran atau sampah basah bisa dimasukan ke LCO yang dalam waktu tertentu bisa dipanen, hasilnya bisa untuk pupuk tanaman,” ujarnya.
Saat ini, ujar Politisi PKB ini, membuang sampah ke TPA Sarimukti tidak bisa seluruhnya, paling sekitar 40 persen dari produksi sampah di Kabupaten Bandung, sisanya harus dikelola secara mandiri.
Selain itu, membuang sampah ke TPA pun tidak bisa dilakukan setiap hari, karena pemgelolanya memberlakukan kuota dampak dari TPA yang over load.
Untuk itu, jelas Renie, persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur dan anggaran, tetapi berkaitan erat dengan sikap mental serta kebiasaan masyarakat dalam membuang sampah.
” Jadi edukasi itu penting dan harus harus terus diperkuat mulai dari tingkat RT, RW, desa/kelurahan hingga kecamatan agar masyarakat memiliki pemahaman yang benar terkait pengelolaan sampah,” tuturnya.
Dukung PLTS
Lebih lanjut, Renie menjelaskan, terdapat beberapa titik yang menjadi perhatian dalam penanganan sampah, salah satunya di wilayah Desa Cibodas, tepatnya di Kampung Lembang Bengkok, Kecamatan SolokanJeruk.
Di lokasi itu, tumpukan sampah terjadi selama hampir delapan tahun, padahal kawasan itu bukan merupakan tempat pembuangan sampah (TPS) resmi.
Tetapi, ujarnya, kondisi tersebut akhirnya mulai tertangani setelah dilakukan pengangkutan sampah dalam beberapa hari terakhir.
“Alhamdulillah, mulai tiga hari ke belakang sampah yang menumpuk di Solokan Jeruk, tepatnya di Kampung Lembang Bengkok sudah mulai diangkut. Semoga dalam waktu dekat bisa segera beres dan lingkungan kembali bersih,” ujarnya.
Ke depan, lanjut Renie, lokasi tersebut rencananya akan ditata dan dimanfaatkan sebagai area Oxbow untuk mendukung sistem pengairan sawah, sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pada kesempatan itu, Ketua Perempuan Bangsa Kabupaten Bandung ini, mengapresiasi rencana Bupati Bandung yang akan membangun pembangkit listri tenaga sampah (PLTS), itu merupakan salah satu upaya pemerintah dalam mengatasi masalah sampah.
“Kami memgapresiasi langkah Pemkab Bandung yang akan membangun PLTS, karena masalah sampah insya Allah di Kabupaten Bandung bisa teratasi,” ujarnya.(NK)










