USAI audensi dengan puluhan perwakilan pedagang Pasar Ciparay yang tergabung dalam Ikatan Warga Pedagang Pasar Ciparay (IWPC), Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Bandung, Faisal Radi Sukmana langsung menghilang, Selasa (20/1/2026).
Sehingga, saat awak media mau konfirmasi seputar hasil audensi dengan para pedagang Pasar Ciparay tidak mendapat hasil.
” Harus oleh Ketua Komisi,” jelas Sekretaris Komisi B, Dadang Suryana saat dikonfirmasi wartawan seputar tuntutan IWPC.
Sementara Kepala Desa (Kades) Ciparay, Dedi Jumhana usai menghadiri audiensi juga “kabur” meninggalkan warganya.
Sebelumnya, IWPC menggelar audiensi dengan Komisi B DPRD Kabupaten Bandung. Ini merupakan kali ke lima para pedagang itu mendatangi wakil rakyat di Soreang.
Namun, jelas Ketua IWPC, Jeffri Hero meski sudah lima kali beraudiensi tetapi tidak memghasilkan solusi apapun bagi permasalahan yang tengah dihadapi para pedagang Pasar Ciparay.
“Kecewa sih tidak, hanya menyesalkan aja. Karena sudah lima kali beraudiensi tapi tidak ada putusan berarti. Komisi B mengembalikan lagi persoalan itu pada kami untuk bermusyawarah dengan pengembang dan pemerintahan desa,” ujarnya.
“Tadinya, saya berharap hari ini ada putusan. Tetapi Komisi B hanya menampung saja aspirasi kami,” imbuhnya.
Dalam audiensi itu, Jeffri menegaskan jumlah pedagang Pasar Ciparay sekitar 1000 orang seluruhnya tidak menolak revitalisasi, bahkan harga kios pun sudah disepakati.
Hanya ada tiga poin yang menjadi tuntutan para pedangang, yaitu soal regulasi Pasar Tumpah kemudian mengenai retail – retail yang ada di sekitar Pasar Ciparay serta pasar yang harusnya dibangun satu lantai.
“Oke pasar dibangun dua lantai, tetapi lantai duanya itu peruntukannya parkir atau food court. Inilah yang masih menjadi polemik, belum ada kesepakatan antara kami selaku pedagang dengan pemerintahan desa serta pihak pengembang,” tegasnya.
Menurutnya, sejak awal, sebelum revitalisasi itu dimulai IWPC sudah menyarankan agar pasar dibangun satu lantai. Karena, jika dia lantai dikhawatirkan pasar akan sepi.
Bahkan, dibeberapa pasar yang dibangun dua lantai, seperti Pasar Banjaran, Pangalengan para pedagang yang di lantai dua pada turun lagi ke lantai satu.
” Aktivitas pedagang Pasar Ciparay harus di lantai satu, itu entry point kami. Lantai dua hanya untuk parkir fan food court,” ujar Jeffri.
Dia menjelaskan, saat ini para pedagang berjualan di pasar sementara. Namun, karena sepi akhirnya dari 700 pedagang sekitar 35 persen pedagang sudah menutup kiosnya.
” Ya, karena sepi pengunjung jarang ada pembeli yang datang. Nah, gimana kalau nanti di pasar yang baru lantai dua, lantai satu aja sepi,” kata Jefri. (nk)










