Tokoh Pemuda Sukatani Purwakarta Berharap, Semua Komponen Anti Korupsi Bersatu

BERBAGAI komponen masyarakat anti korupsi berharap tegaknya supremasi hukum di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Untuk mencapai kearah itu dibutuhkan dukungan segenap elemen masyarakat.

Kritik konstruktif terhadap para pemangku jabatan agar mereka tidak menyalahgunakan jabatan yang melekat pada dirinya harus dilakukan dengan kesadaran dan istiqomah.

Demikian diungkapkan tokoh pemuda Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta Jawa Barat, Agis Lembong kepada dialogpublik.com tentang Purwakarta kekinian.

Secara umum, kata Agis, Purwakarta semakin dinamis, demokratis, dan terbuka. Kondisi tersebut bisa dijadikan sebagai jembatan untuk menuju Purwakarta ke arah yang lebih baik.

Banyak komponen yang punya kekuatan sebagai pelaku kontrol sosial untuk mengawal rezim agar tak menyimpang. Sebut saja misalnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), pers, dan para tokoh politik atau agama.

“Sayangnya, dalam praktiknya tak sedikit pelaku kontrol sosial yang hanya mencari azas manfaat. Dengan kata lain, mereka minim idealisme, sehingga mudah goyah atau rapuh. Akhirnya masuk angin,”katanya menyindir komponen anti korupsi bergelar azas manfaat. Imbasnya, daya kritis mereka menjadi berkurang atau hilang di tengah jalan alias masuk angin,” kata Agis, Rabu (14/8/2018) malam.

“Seseorang atau komunitas tertentu yang mendambakan Purwakarta semakin keren, harus menjadikan idealisme sebagai prinsip yang tak boleh ditawar lagi,” kata Agis yang tercatat juga menjabat Ketua LSM Baladiana, sebuah organisasi yang bergerak di bidang sosial.

Saat ini, imbuh dia, Purwakarta sedang diguncang kasus korupsi SPPD Fiktif di Sekretariat Dewan, “Nah, ini saat yang tepat untuk membuktikan sebesar apa rasa idealisme kita dalam menyoroti kasus yang menghebohkan itu,”

Dia percaya banyak komponen masyarakat yang konsisten dengan perjuangannya. Ekspektasi masyarakat sedemikian tinggi. Bagi pelaku kontrol sosial yang tetap konsisten, maka akan mendapat ganjaran berupa kepercayaan masyarakat.

“Sebaliknya, jika pergerakan tanpa dibarengi idealisme, maka akan mendapat cemoohan dari masyarakat,” ujar Agis yang juga dikenal sebagai pengusaha jasa konstruksi ini. (jab)

Categories: Regional

dialogpublik.com