Strawbery Kabupaten Bandung Nyaris Punah

STRAWBERY sebagai salah satu icon Kabupaten Bandung, keberadaannya kini nyaris punah. Sayangnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung tidak perduli, terkesan lepas tangan.

Padahal keberadaan kebun starwbery, selain menjadi tujuan wisata juga dijadikan sebagai iconnya Kabupaten Bandung. “Hal yang seharusnya dapat dicegah, mengingat kebun strawbery telah menjadi salah satu icon wisata di Kabupaten Bandung,” kata aktivis Kabupaten Bandung, H Asep Badrun Mulyana, kepada dialogpublik,com di kediamanya, Katapang Kab Bandung, Selasa (30/7/2019).

h.asep b
                              H Asep Badrun Mulyana

Jadi ujar Asep, untuk mencegah strawbery dari kepunahan dibutuhkan antisipasi dari dinas terkait, seperti memberi penyuluhan dan pengetahuan sadar wisata. Tetapi jika pemerintah tetap diam, maka keberadaan strawbery di Kabupaten Bandung hanya tinggal cerita. Apalagi petani strawbery di Pasirjambu, Ciwidey dan Rancabali (Paciran) sudah pada gulung tikar.

Punahnya starwbery, selain dikarenakan areal tanam yang terus berkurang, juga disebabkan teknik budidaya yang tidak sesuai. ” Media tanam harus diganti setiap dua tahun namun para petani masih memakai media lama, dan menggantinya sampai empat atau lima tahun,”jelasnya.

Asep menambahkan, pemerintah sebaiknya melakukan mediasi dengan para petani strawbery dan para pengepul atau bandar, agar buah yang menjadi iconnya Kabupaten Bandung tidak punah.

Sementara Rini (40), petani strawbery d Leubakmuncang Ciwideuy mengatakan, masalah yang dihadapi petani saat ini, pemasaran dan harga jual yang tidak seimbang dengan biaya produksi. Akibatnya banyak petani yang gulung tikar, kondisi ini sudah berlangsung lama. Parahnya, untuk strawbery tidak ada standar harga, sehingga saat panen banyak petani yang banting harga. ” Untuk itu pemerintah seharusnya menjaga stabilitas harga strawbery,” pungkasnya. (hen/bas)

dialogpublik.com