Dialogpublik.com,– Untuk mengatasi persoalan sampah, khususnya yang organik DLH Kabupaten Bandung kembali berinovasi dengan membuat Lubang Sampah Jadi Berkah (Lusabar).
Lusabar merupakan lubang biopori yang dapat digunakan untuk mengubah sampah organik menjadi kompos alami (pupuk organik) dan sumber pakan maggot. Sampah tersebut akan diurai secara alami oleh mikroorganisme dan fauna tanah.
“Sebelumnya di kami ada program Lubang Cerdas Organik ( LCO) serta Bata Terawang, tujuannya sama saja untuk mengubah sampah organik menjadi kompos,” ujar Kepala Dinas LH Kabupaten Bandung, Ruli Hadiana saat menerima Duta Adiwiyata Jawa Barat di Soreang, Selasa (21/7/2026).
Untuk Lusabar, jelasnya, belum dilaunching dan baru dibuat di halaman DLH saja. Tetapi, program tersebut akan segera disosialisasikan dan akhirnya pilihan ada di masyarakat mau menggunakan LCO atau Lusabar.
Untuk Lusabar mungkin tidak akan terlalu ribet, sebab bisa dibuat tiap RT dua lubang atau tiap RW 4 sampai 6 lubang. Tidak seperti LCO yang dibuat disetipa rumah.

Tetapi, kata Ruli, baik LCO maupun Lusabar pihaknya berharap sampah bisa tuntas di pusatnya. ” Kalau sampah rumah tangga itu bisa tuntas di dapur termasuk sampah yang ada disekolah langsung harus clean di sana,” tegasnya.
Untuk itu, ungkapnya, kunci utama dalam penanganan sampah adalah pemilahan. Jadi, kita harus mau memisahkan sampah antara yang organik dan non organik.
Untuk sampah organik bisa ditimbun di Lusabar atau LCO sedangkan yang non organik dikumpulkan untuk dijual ke pengepul atau bank sampah.
Dengan cara itu, insya Allah tidak akan terjadi penumpukan sampah di TPS termasuk di pinggir jalan yang beralihfungsi jadi tempat sampah liar.
Selain itu, ia berharap, agar Duta Adiwiyata bisa mengaktifkan kembali piket kelas terutama untuk kebersihan, meskipun di sekolah sudah ada petugas kebersihannya.
” Piket itu petugasnya dibagi per kelompok, tugasnya membersihkan kelas sebelum belajar dimulai. Kegiatan itu sangat bagus karena di situ ada pendidikan tanggung jawab, kerja sama dan solidaritas sesama teman,” tuturnya.
Ke depan, jelas Ruli, DLH akan bekerja sama dengan pihak ke tiga untuk membuat kantong kecil yang akan diberikan ke sekolah untuk dibagikan pada siswa.
Dengan kantong itu, kalau siswa jajan sampahnya bisa dimasukan ke kantong tersebut, atau jika melihat sampah berserakan di halaman sekolah atau di jalan dia bisa memungutnya untuk dimasukan dalam kantong.
Harus Berkoordinasi Tetlebih Dulu
Sementara itu, Ruli mengaku pihaknya belum mengetahui persis penanganan sampah di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sebab hingga saat ini pihaknya belum bisa menembus dapur Makan Begizi Gratis (MBG) yang ada di wilayah kerjanya.
“Untuk mengetahui penanganan sampah di SPPG kita harus berkoordinasi terlebih dulu dengan koordinator dapur MBG, yaitu Pak Asisten ll, ” jelasnya.
” Secepatnya kita akan berkoordinasi,” imbuh Ruli.
Yang jelas, harapnya baik di rumah tangga, industri, sekolah termasuk SPPG sampah tuntas di pusatnya.
” Ya, kita juga mau tahu penanganan sampah di SPPG itu gimana?, dibuang ke TPS kah atau diolah secara mandiri. Termasuk dalam menangani sampah makanan sisa yang dikembalikan oleh sekolah,” ungkapnya.
Terkait SPPG yang belum melengkapi Instalasi Pengalah Limbah (IPAL), Ruli enggan menjawab secara pasti. “Pokoknya kita akan berkoordinasi terlebih dulu dengan koordinator dapur MBG,” tegasnya. (nk)










