Peringati Hari Ibu, “Stop Kekerasan Terhadap Perempuan”

MEMPERINGATI Hari Ibu pada tanggal 22 Desember tahun 2019, advokat yang tergabung di DPC IKADIN Bandung Bersama dengan Women Self Defenseof Kopo Ryo (WSDK) dan Yoga Healing. Pada hari Minngu (22/12/2019) menyelenggar akan kegiatan  penyuluhan hukum dan tehnik bela diri serta pemulihan trauma terhadap perempuan korban kekerasan secara gratis.

Acara yang bertemakan “Stop Kekerasan Terhadap Perempuan” bertempat di Kedai Kopi Dago Pakar Jln Pakar Kulon 112 Bandung tersebut, dikuti sekitar 100 orang Ibu yang tergabung dalam komunitas (WSDK) dan Yoga Healing.

“Perempuan menjadi pembawa Perubahan yang menjadikan Bangsaini Besar, demikian kalimat yang pernah saya tulis dalam Kata Pengantar buku, Kartini-Kartini Hukum Indonesia, itulah yang terbersit ketika pertama kali ide menyelenggarakan kegiatan ini. Suatu kegiatan  yang saya rasa cukup lengkap, dimana selain sosialisasi dan konsultasi hukum gratis tentang permasalah terhadap, Kekerasan pada Perempuan  dipadukan juga dengan coaching tehnik-tehnik BelaDiri yang diharapkan bisamembekali perempuan untuk berani bertindak. Mernjadi perempuan harus Tangguh”, Ujar Veena Devi Mutiram, BBA., S.Sos, SH., MM, MH., CLI. Pada wartawan disela acara.

Sementara dari WSDK Hesti menyampaikan tehnik-tehnik belah diri untuk menghidari kekerasan terhadap kaum perempuan dengan konsep 4P yaitu Pray, Prediction, Preventive dan Protection.

” Kita harus tahu mengantisipasi setiap yang akan terjadi terhadap kita, diantaranya dengan teriak tolong atau dengan tehnik beladiri, jurus Satu Jari Melumpuhkan Lawan, Satu Jari Menyelamatkan mu”, katanya.

Widya Majid  dari Yoga Healing kepada peserta memperkenalkan tehnik-tehnik Pernafasandan Meditasi yang bisa membantu prosesTrauma yang pernah dialami korban kekerasan.

Lebih lanjut ditambahkan Veena Devi Mutiram, Sebagai Ibu haruslah mempunyai pengetahuan cukup dan komprehensif untuk anak-anak mereka, baik bagi anak perempuan maupun anak lelaki sehinga mereka mengetahui batasan-batasan agar mereka tidak perlu mengalami Kekerasan atau pelaku Kekerasan.

Sekali mereka mengalaminya, seumur hidup menjadi trauma yang tidak berkesudahan, mengatasi trauma tidak mudah walaupun bisa namun tidak mungkin menghapus memori yang terlanjur terekam dalam jejak perjalanannya.

Ia mengharapkan di Hari Ibu ini, perempuan yang pernah mengalami trauma akibat kekerasan yang dialaminya mendapat cara untuk bisa kembali berdiri tegak meraih cita-citanya.

Hukum sebagai toolof socia lengineering harus mampu mencukupi kebutuhan-kebuthan masyarakat bukan saja dimasakini dan harus bisa mengarah kepada masa yang akan datang, kepesatan tehnologi berbanding lurus dengan peningkatan Kejahatan,termasuk Kekerasan terhadap Perempuan, sehingga untuk mendapatkan hasil yang komprehensif diperlukan kerjasama yang erat dari masyarakat dan komunitas-komunitas perempuan yang

Concernter hadap perubahan kearah perbaikan, dimana Kekerasan terhadap Perempuan ditekan kearah titik nol. Hukum bisa ditegakkan, namun alangkah lebih indah Bangsa ini, jika Hukum tidak ditegakkan jikater jadi konflik, tetapi Hukum menjadi Pengayom. Jika itu semua bisa dilaksanakan, kenapa kita diam?, Jika kita bisa menggunakan intuisi kita atas prediksi bahwa bisa terjadi suatu kejahatan, mengapa kita diam?, Jika kitatahu Hukum itu bisa ditegakkan, mengapa kita diam?, Jika Satu jari bisa menyelamatkan mu, kenapaka mu diam?

“Momentum hari Ibu ini, perempuan menjadi pembawa Perubahan yang menjadikan Bangsa ini damai.” Pungkas, Veena Devi . (Yn)

dialogpublik.com