Peringatan Harlah ke 96, Lesbumi PC NU Kab Bandung Gelar Ruwatan

LESBUMI Pengurus Cabang (PC) NU Kabupaten Bandung akan menggelar ruwatan di Lapangan Upakarti, Komplek Perkantoran Pemkab Bandung, Soreang Senin (31/1/2022) besok.

Ruwatan bertema “Menjaga Tradisi, Merawat Toleransi”, menurut Ketua Lesbumi PC NU, Dadan Madani, selain memperingati Harlah NU ke-96, juga untuk menyikapi munculnya intoleransi yang disebabkan praktek tradisi di masyarakat.

“Tradisi dan toleransi telah menjadi dua kutub yang mudah dibenturkan,” jelasnya dalam siaran presnya yang diterima dialogpublik.com, Sabtu (29/1/2022).

Fenomena ini jelasnya, sering menjadi ancaman bagi kerukunan dan keberagaman, bahkan sering berakhir dengan kekerasan atau intoleransi.

Munculnya kekerasan yang diisebabkan praktek tradisi masyarakat itu, berdasar atas keyakinan yang menurut sebagian warga melanggar syariat agama dan keyakinan.

Tradisi Ruwatan misalnya, adalah tradisi yang diyakini masyarakat adat tertentu, sebagai media komunikasi antara manusia, alam dan makhluk lainnya.

Suguhan atau sasajen dengan iringan musik tertentu, sebagai media ritual, seakan hal tersebut berbau klenik dan mengundang perdebatan.

Agenda tersebut, sekaligus sebagai bentuk pelaksanaan dari Saptawikrama (Tujuh Kebijaksanaan Kebudayaan ) Lesbumi yang ketiga, yaitu membangun wacana independen dalam memaknai kearifan lokal dan budaya islam Nusantara, secara ontologis dan epistimologis keilmuan.

“Di NU dikenal sebuah prinsip atau bisa juga disebut pedoman yang berbunyi Al-Muhafazhoh ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah (Memelihara Tradisi lama yang baik dan mengambil kebiasaan baru yang lebih baik),” paparnya.

Gelar Ruwatan tersebut, kata dia, berhubungan dengan prinsip tersebut, karena ritual ruwatan termasuk tradisi lama yang nilai-nilainya bisa diterapkan di masa sekarang.

Bahkan ungkapnya, nilai-nilai tersebut salah satu faktor penguat bagi generasi sekarang, dalam membangun negeri dengan didasari semangat kearifal lokal.

‘Seperti semboyan negeri ini, Kita berbeda-beda tapi satu tujuan, Bhineka Tunggal Ika.” Kemudian apa yang salah dari ritual masyarakat adat itu, sehingga seringkali berimbas pada laku intoleransi?” tuturnya.

“Kami mengajak seluruh masyarakat serta pihak yang peduli terhadap khazanah Budaya Nusantara, untuk bersama-sama membuka ruang-menghimpun dan bergerak dengan menghadirkan kembali nilai-nilai budaya Nusantara yang hampir tergerus oleh praktek intoleransi dan sisi negatif arus globalisasi.” pungkasnya.(nk)