Kuningan Biennale 2020, Bertajuk “Niaga” Dilaunching

AGENDA dua tahunan Kuningan Biennale 2020 bertajuk “Niaga,” dilaunching di gedung Kesenian Raksawacana Sabtu (7/3/2020), dihadiri Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan & Kebudayaan Kuningan Muplihudin, MPd, seniman, wartawan dan komunitas seni.

Perhelatan Kuningan Biennale ini kata Agung M Abul didampingi Arie Syafrudin digelar selama bulan Maret-September 2020 dengan tajuk” Niaga”  sebagai ide/ gagasan dengan pola residensi disepuluh titik atau desa desa perniagaan di kabupaten Kuningan, para seniman lokal, nasional maupun mancanegara akan disebar untuk menghasilkan karya,  yang nantinya akan dipresentasikan diacara puncak Kuningan Biennale 10-20 September 2020 .

Pemilihan “Niaga” sebagai tema dan gagasan Kuningan Biennale ujar Abul, tidak terlepas dari kota Kuningan dan persoalan niaga serta aneka siasat warganya bertahan hidup hingga menaklukan wilayahnya. Kota-kota kecil di Indonesia dikenal dengan ke-khas-an perniagaan kotanya seperti Jepara, Lamongan, Tegal, Pekalongan, Padang  Palembang dan kota-kota lainnya.

Beberapa kota tersebut terkenal karena usaha kuliner yang gigih bergerilya menyerang kota-kota besar di Indonesia. Begitu juga dengan Kabupaten Kuningan yang mudah diasosiasikan dengan Warmindo (warung indomie) nya dan lang rokok (pedagang rokok) ketika pertama kali mendengar kota Kuningan.

Sedikitnya 13.000 orang pedagang asal Kuningan tersebar diwilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi (Jabodetabek), terangnya berdasarkan hasil survey.

Lebih jauh Abul menuturkan, Kuningan Biennale ini melacak pola niaga warga Kuningan dengan aneka platform dan segala insfrastruktur organik-nya hingga kemudian terbaca sebagai fenomena swatata yang unik dan berlangsung bergenerasi dengan caranya sendiri sampai sekarang. Dipimpin Arti Firmansyah sebagi direktur artistik yang akan memimpin proses kreatif Kuningan Biennale 2020 serta kurator Arie Syarifuddin dan Agung M. Abul.

Gagasan Niaga  memiliki daya tarik sebagai awalan berangkat menemukan potensi dan kemungkinan transaksi lain seperti pengetahuan, pengalaman juga pikiran disamping melulu tentang transaksi ekonomi .

Sementara itu, Kabid Kebudayaan Muplihudin berharap pasca Kuningan Biennale akan menghasilkan sesuatu yang  bermanfaat bagi masyarakat Kab Kuningan, dibidang perniagaan maupun perekonomian.

“Kuningan Biennale yang diagendakan dua tahun sekali, kedepan diharapkan   bisa digelar setahun sekali”, ujarnya. (H WAWAN JR)