Kepsek SMK TASA: Garap Anak Punk, Mereka Juga Punya Hak Yang Sama Untuk Mendapatkan Pendidikan

APA yang terlintas dalam benak anda ketika mendengar atau menyaksikan di jalanan ada anak yang menamakan diri anak punk? Biasanya mereka punya ciri khas sendiri, bergerombol dengan pakaian kumal dan robek, bertato, dianting, pakai rantai dicelana.

Ada juga yang pakai motor dengan puluhan ban menempel dan berbagai asesori barang bekas. Tentu, stigma langsung diarahkan kepada mereka sebagai anak tidak punya masa depan, urakan, tidak punya tata krama, pembuat onar dan tidak punya nilai.

Tapi apakah anda tahu, bahwa keberadaan mereka melakukan itu banyak faktor yang harus diselusuri kondisi sosial, kejiwaan dan harapan mereka.

Untuk mendapat jawaban pertanyaan diatas, wartawan media ini mewawancarai seorang Kepala Sekolah yang punya kepedulian tinggi terhadap mereka (anak punk dimaksud-red). Pak Kepsek – sebutannya di sekolah – ini menjabat disekolah swasta yang berlokasi tak jauh dari jalan pertigaan Sadang arah masuk dan keluar jalan Tol Sadang – Jakarta.

Sang Kepsek ini – konon – sudah melakukan observasi lapangan keberadaan anak punk disekitar Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Karawang.

Pak Kepsek ini bernama Yayan Gilang Sonjaya, SE., M.M., AK. Dia memimpin di Sekolah Menengah Kejuruan Taruna Sakti yang terkenal di Kabupaten Purwakarta dengan sebutan SMK TASA. Ditemui diruang kerjanya, Kamis (17/12/2020)

Berikut petikan wawancaranya:

T: Inisiatif mengumpulkan anak Punk dan berani berkorban untuk menyekolahkan mereka secara gratis, bagaimana cerita awalnya?.

J: Yang namanya pendidikan itu kan bersifat universal dan menyeluruh. Yang pertama dan hak bagi seluruh warga negara Indonesia. Bahwa pendidikan itu bukan hanya milik warga miskin dan warga kaya saja, tapi seluruhnya pun berhak mau dia tato-an mau dia mantan preman mau dia orang yang biasa-biasa saja itu adalah hak semua orang. Pendidikan itu melahirkan sebuah generasi sosial yang harus dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Salah satunya adalah anak punk. Mereka bisa seperti itu karena tidak ada keterpihakan dan perhatian yang lebih, sehingga cenderung termajinalkan dari status masyarakat. Ini memerlukan sebuah penanganan khusus.

Sekarang mereka bertato, dianting, di tindik gak ada sekolah yang mau menerima mereka. Alasannya kenapa ? karena sekolahannya harus bersikap seperti formal. Makanya saya berinisiatif tolong kumpulkan seluruh anak punk yang ada di Purwakarta yang memiliki ijazah SMP tapi tidak bisa sekolah ke SMA maupun SMK lain. Kita sekolahkan disini (SMK TASA-red) dengan sistem PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Kelasnya industri sosial kemasyarakatan. Nah program ini juga nanti akan diintegrasikan ketika berbicara SMK dengan dunia industri yang mau menerima magang mereka minimal magang mereka itu ke wirausahawan. Mereka dimagangkan dengan proses pembuatan produk kewirausahaan, networking. bagaimana mereka membina proses potensi itu sehingga mereka menjadi perubahan nasibnya terjadi disana.

T: Apakah ini juga merupakan upaya menekan dan meminimalisir efek kejahatan?

J: Iya betul. Memang harus kita siapkan. Hari ini banyak sekali masyarakat yang memarjinalkan. Disangkanya mereka (anak punk) seram, kriminal. Tapi ketika saya tanya mereka hapal rukun islam, mereka hapal Pancasila, mereka juga punya cita-cita. Cuma tampang aja serem. Saya sampaikan kepada mereka, kalian itu harus sekolah. Gak perlu anggaran besar, pemerintah sudah menyiapkan, dana bos dan dana lainnya, tinggal kita mau tidak sebagai lembaga pendidikan menampung mereka agar bermanfaat dan bermartabat tersalurkan proses pendidikan. Mereka mau kuliah mau bekerja, agar tidak hanya jadi pengamen saja, preman saja, tidak jadi anak punk saja. Tapi anak yang memiliki kreatifitas di organisasi yang bernama punk. Jadi kedepan kalau mereka sudah disekolahkan menjadi punk lebih syari’ah.

T: Hasil penulusuran anda, apakah yang menyebabkan mereka “terjerumus” menjadi anak punk?

J: Rata-rata faktor ekonomi, terus faktor sosial keluarga, dimana ada keluarganya juga yang bermasalah, brokenhome tidak dianggap oleh keluarga inti maupun keluarga lainnya sehingga mereka menjalani sebagai anak punk sehingga menjadi anak yang tidak berestetika hingga terjadilah sebuah pengelompokan

T: Dari hasil observasi anda terhadap mereka, apakah anak-anak punk masih antusias untuk belajar lagi untuk menatap masa depan, seperti apa?

J: Tinggi sekali. Bahkan saya dapat WA dari orang Kabupaten Karawang, mereka siap gabung.

T: Berarti apa yang sekarang sedang anda kerjakan tidak mengenal wilayah ?

J: Ya. Bagi saya bagaimana mereka bisa terfasilitasi. Saya sih berharap kepada para anggota dewan (DPRD) yang sekarang sudah menduduki posisinya bisa membantu, memperhatikan juga jangan hanya janji manis ketika kampanye saja. Walau saya yakin sudah ada yang peduli. Dan menerima manfaat yang digulirkan oleh DPRD kita. Jadi sebenarnya ini bukan hanya tanggungjawab pemerintah saja. Mungkin hanya belum terfasilitasi saja oleh pemerintah daerah. Karena ini juga merupakan tanggungjawab masyarakat, organisasi sosial, dan sebagainya. Jadi intinya, pendidikan itu tidak hanya milik orang kaya. Siapapun berhak mendapatkan pendidikan. Mau dia anak status sosialnya normal, punk, mau dia anak jalanan mau dia mantan narapidana anak. Ketika mereka putus sekolah mereka bisa kita fasilitasi.

T: Bagaimana tanggapan Dinas Pendidikan Provinsi ?

J: Kabid SMK Dinas Pendidikan Provinsi menyambut positif. Bahkan Kepala Cabang Dinas Pendidikan wilayah IV sudah memberikan apresiasi, silahkan jalankan. Tapi pisahkan mereka dari kelas regular. Karena mereka punya pergaulan harus disesuaikan dulu. Dan pendidikan yang akan diterapkan kepada mereka tahap awal pendidikan karakter, budi pekerti, baru ke pendidikan vokasi. Waktunya kita sesuaikan agar mereka terfasilitasi pembelajarannya, bisa seminggu tiga kali, apakah jam belajarnya pada pagi hari, siang hari atau malam hari.

T: Bagaimana menyiapkan pembelajaran mereka, apakah anak punk yang datang ke sekolah atau pihak sekolah yang mendatangi tempat mereka.?

J: Ada dua acara. Pertama, kita buat komunitas atau kelompok belajar. Tapi kalau mereka mau datang ke sekolah, nanti akan kita fasilitasi tempat khusus buat mereka. Biasanya mereka punya tempat nonggkrong di istilah mereka “Kopdar” atau Kopi Darat. Sebab, ada persyaratan juga bagi mereka yang pingin menjadi anggota punk. Syaratnya tidak mandi selama 3 bulan. Sebenarnya mereka melakukan itu mencari identitas seperti dianting, ditato, celana robe-robek, pakai rantai itu gaya, tapi mereka tidak menyadari apa yang mereka lakukan ada dampak, stigma negative dari masyarakat kepada mereka yang berdampak sosial.

T: Apa yang menarik anda sebagai kepala sekolah terhadap anak punk .Karena selama ini memang mereka termajinalkan, kemudian dianggap tidak punya masa depan, saya lihat belum ada, belum mendengar ada terobosan ini. Saya pingin tahu apa yang menjadi kekuatan moral anda mau merekrut mereka. Padahal, risikonya tinggi ?

J: Ke satu Ibadah. Sebagai tenaga pendidik tidak hanya kepada orang yang membayar kita. Tapi mendidik itu harus datang dari hati, karena pendidikan itu tidak mengenal batas golongan. Tidak mngenal strata sosial. Ini yang harus kita teladani, yang harus kita buat perubahan bahwa pendidikan tidak hanya untuk orang yang punya status sosial normal saja. Siapapun berhak mendapatkan pendidikan. Yang penting mereka mau sekolah dan kelak punya masa depan sebagaimana layaknya di strata sosial orang-orang normal secara sosial.

T: Apa anda tidak khawatir nantinya sekolah yang anda pimpin ini malah dijauhi oleh orang tua yang mau menyekolahkan secara regular di sini ?

J: Tidak. Kalaupun nanti branding turun tidak apa-apa. Tapi saya yakin justru malah meningkatkan branding sekolah (jainul abidin)

dialogpublik.com