Kampung Zakat di Selajambe Menuju Kampung Berkah Dengan Sedekah

LAUNCHING dan pembentukan Kampung Zakat ditiap desa/kelurahan yang meliputi 376 desa di 32 kecamatan se-Kabupaten Kuningan, dengan tajuk “Kampung Berkah Dengan Sedekah” berlangsung di halaman Balai Desa Selajambe Kuningan. Program ini merupakan kolaborasi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dengan Kementerian Agama (Kemenag) Kuningan.

Demikian disampaikan Ketua Baznas Kab.  Kuningan Drs H Yayan Sofyan, MM, saat di wawancarai via seluler, Kamis (8/12/2022)

Sejarah mencatat terbentuknya Kampung Zakat pertama berdiri hanya ada di Desa/ Kecamatan Selajambe Kab. Kuningan.

“Kampung Zakat ini sebagai wadah gerakan amal dalam upaya menanggulangi kemiskinan sekaligus untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat”, ucap H. Yayan.

Sementara itu, Ketua Divisi Bidang Pengumpulan Zakat Baznas Kuningan,    KH Aang Asy’ari, menerangkan, program Kampung Zakat ini bertujuan, untuk mengentaskan kemiskinan di daerah yang rawan ketahanan ekonomi. Program Kampung Zakat merupakan sinergitas yang melibatkan Kemenag, Baznas, LAZ Nasional dan lokal untu sama-sama mengentaskan kemiskinan dalam rangka memperluas lapangan pekerjaan. Tujuan akhirnya adalah menciptakan menciptakan muzaki baru atau yang semula adalah seorang mustahik (penerima zakat) setelah adanya pemberdayaan ekonomi masyarakat, maka satusnya akan berubah menjadi muzaki (pembayar zakat).

“Potensi zakat di Kab., Kuningan luar biasa, terbukti saat dilakukan gelar ZIS dalam acara launching Kampung Zakat di Desa Selajambe secara spontanitas terkumpul dana sebesar Rp 2,6 juta,” terang Aang.

Lebih lanjut Ketua Baznas Kab. Kuningan, Drs. HR Yayan Sofyan, pihaknya bangga di Desa Selajambe sudah terbentuk Kampung Zakat lebih awal. Manakala di  Selajambe terdapat sebanyak 900 kepala keluarga (KK), sedikitnya 500 KK bisa menyisihkan hartanya setiap hari Rp 1.000,- maka selama sebulan (30 hari) akan terkumpul sebanyak Rp 30.000,-/orang/bulan. Jika dikalikan 500 KK menabung selama 12 bulan (setahun), maka akan terkumpul dana zakat, infak dan sodakoh (ZIS) mencapai Rp 180 juta/tahun. Melalui gerakan amal pengumpulan ZIS yang disimpan dalam wadah S-2 (serba seribu), selain diperuntukan bagi asnap yang berhak menerimanya, bisa dimanfaatkan lewat program pendidikan, pananganan kemiskinan, penderita stunting (balila gagal tumbuh), pemberdayaan ekonomi produktif, penanggulangan para korban bencana alam, pembangunan rumah tidak layak huni dan lain-lain sehingga kehadiran Baznas di tengah-tengah masyarakat dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh warga yang layak untuk dibantu.

Terkait hal ini maka tidak perlu khawatir dalam memberikan infak, zakat maupun sedekah yang dikelola oleh Baznas.  (H WAWAN JR)

dialogpublik.com