In Memorian : Hana Nining Srikandi Nasionalisme Dari Kuningan

HANA ‘Nining’Kurniasih (55) seniman dan budayawan Kuningan kini telah tiada. Dia wafat Hari Minggu kemarin (27/3/2022) akibat penyakit stroke yang dideritanya selama satu tahun terakhir ini.

Hana Nining sapaan akrabnya dikenal sebagai penggagas berkibarnya 10001 bendera merah putih di komplek gedung bersejarah gedung perjanjian Linggarjati.

Ditangannya , Gedung perjanjian Linggar jati di Kuningan Jawa Barat yang boleh di bilang ‘Mati Suri’  menjadi hidup kembali dan menjadi perhatian publik untuk datang ke Gedung Naskah perjanjian Linggarjati.

Sebanyak 10001 Bendera merah Putih di kibarkan setiap bulan Agustus Lima tahun berturut turut sejak tahun 2017-2021. Bahkan saat dilanda pandemi covid-19 tidak menyurutkan aktivitasnya, untuk tetap mengobarkan rasa nasionalisme di tempat bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Terakhir pada peringatan Hari Pahlawan ke 76 di komplek gedung perjanjian  Linggarjati menggelar acara pengibaran kain merah putih sepanjang 50 meter dan berbagi bendera merah putih jepada khalayak bersama aktivis nasionalisme.

Nama Hana Nining kini tinggal kenangan namanya akan terpahat di batu nisan. Nama itu melesak di ingatan kita dengan semua kenangan atas pejuangannya. Mimpi mimpinya dalam kondisi apapun tidak pernah surut dan tetap semangat, meski dalam kondisi sakit sekalipun.

Sosok aktivis ‘Srikandi’  yang satu ini  sangat kritis pada dinamika yang terjadi di negeri ini khususnya di Kuningan.

Setiap akhir pekan kerap menyambangi  Bumi Seni Tarikolot (BST) di desa Sukamukti, yaitu Padepokan seni milik musisi Yusup Oeblet, dia berdiskusi banyak hal tentang berkesenian. Dari hasil diskusi lahirlah karya karya spektakuler dari tangannya, mulai dari Film. Musik, teater dll termasuk pengibaran Bendera merah Putih di Linggarjati.

Kami benar- benar merasa kehilangan, sosok Hana Nining yang tidak lelah untuk berkarya dengan sungguh sungguh, menghadirkan spirit merah Putih yang bukan sekedar kibaran Bendera merah Putih ke angkasa, ungkap Yusup Oeblet.

Sosok Hana Nining hanya warga sipil biasa, tapi kecintaannya kepada negeri begitu besar, ayah beliau seorang pejuang, seorang prajurit TNI pada masa agresi belanda.

Jiwa nasionalisme melekat di darahnya, mewujudkan cita-cita ayahnya untuk mengibarkan merah putih.

Ketiga orang putranya hanya bisa mengapresiasi perjuangan dan melaksanakan amanat terakhir, untuk selalu mengibarkan bendera merah putih

Sementara itu, pihak keluarga almarhumah  menyampaikan terimakasih kepada seluruh sahabat dan rekan-rekan, yang sudah menjadi teman baik semasa hidupnya. (H WAWAN JR)

dialogpublik.com