H. Cecep Suhendar : Pembangunan Danau Buatan Di Rancaekek Itu Tak Bisa Ditawar Tawar Lagi

ANGGOTA DPRD Kabupaten Bandung H. Cecep Suhendar menegaskan, pemerintah wajib memikirkan dan mengatasi masalah banjir di Kecamatan Rancaekek, umumnya di Kabupaten Bandung.

Hal itu dikatakannya, di depan puluhan kader Partai Golkar daerah pemilihan (dapil) 4, para tokoh masyarakat dan kader Posyandu saat reses di GOR Desa Sukamanah, Rancaekek Kabupaten Bandung, Sabtu (27/3/2021).

Sukamanah salah satu desa di Kecamatan Rancaekek yang menjadi langganan banjir rutin, itu terjadi sudah 10 tahun lebih.”Sungai Cikijing dan Cimande sudah dinormalisasi, tapi banjir semakin gede. Saya sebagai wakil rakyat akan terus memperjuangkan agar banjir di Rancaekek segera tuntas,” katanya.

Menurutnya, untuk penanggulangan banjir di Rancaekek dengan pembangunan danau buatan, lahannya sebenarnya sudah dibebaskan seluas 2 hektare di Sukamanah.

Namun, untuk pembangunan danau buatan membutuhkan lahan hingga 30 hektare lebih, sehingga harus ada upaya pembebasan lahan tambahan seluas 28 hektare.

“Untuk pembangunan danau buatan membutuhkan lahan lebih dari 30 hektare. Jadi untuk pengadaan lahannya harus sinergis antara pemerintah dan pengusaha atau pihak swasta,” tuturnya.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Bandung ini menandaskan, pembangunan danau buatan di Rancaekek itu tak bisa ditawar tawar lagi dan harus segera direalisasikan. “Kasihan masyarakat terus menerus menjadi korban banjir,” ucapnya

Lebih lanjut Ketua Fraksi Partai Golkar ini menuturkan, banjir di Rancaekek bukan lagi musibah, tapi sudah menjadi kebiasaan yang tak henti hentinya dikeluhkan masyarakat terdampak bencana tersebut.

“Kalau musibah itu satu kali, tapi ini terus terusan terjadi. Kami melihat, banjir di Rancaekek nampaknya akan menjadi masalah besar kedepannya,” ungkapnya.

Cecep menuturkan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab banjir di Rancaekek selain akibat luapan Sungai Cikeruh juga ada beberapa aliran sungai yang hulunya di Jatinangor dan Cimanggung Kabupaten Sumedang, tetapi bermuara di Rancaekek.

“Muaranya itu di Desa Sukamanah, sehingga air tak terkendali akibat kerusakan dan alih fungsi lahan di hulu sungai tersebut juga tak terkendali,” tuturnya.

Semula kawasan hulu sungai itu, merupakan daerah resapan air, kini banyak terjadi alih fungsi lahan. Selain itu banyak proyek perumahan yang menggunakan daerah resapan air.

“Termasuk di Desa Rancaekek Kulon, Rancaekek Wetan dan Desa Cileunyi Wetan ada proyek kereta cepat yang menimbun lahan seluas 100 hektare dengan tinggi pengurugan antara 6-7 meter. Akibatnya, air masuk ke rumah warga. Karena kawasan pembangunan kereta cepat itu seharusnya menjadi daerah resapan air. Ditambah lagi saat ini ada pembangunan double trak kereta api,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, pembangunan danau buatan itu dalam upaya mengimbangi proyek pembangunan kereta cepat di kawasan Rancaekek.

“Program pembangunan pemerintah tercapai, masyarakat pun harus tenang dan aman. Sampai saat ini, saya belum melihat seiring perjalanan proyek berbarengan dengan pembuatan danau buatan. Seharusnya, proyek kereta cepat berlangsung, pembuatan danau buatan pun harus dalam pengerjaannya.

Sampai saat ini belum ada tanda tanda, jika danau buatan belum dibangun akan berdampak pada proyek kereta cepat tersebut,” paparnya.

Cecep khawatir, jika bencana banjir yang semakin masif di Rancaekek wilayah itu akan tenggelam karena banjir semakin besar. “Kita sebenarnya bukan menolak proyek, tapi harus seimbang dalam penanganan penanggulangan banjir,” katanya. (nk)