WOLOAN kembali membuktikan bahwa sejarah bukan sekadar catatan di buku. Sabtu (9/8/2025), Wanua yang berada di jantung Minahasa ini merayakan 887 tahun berdirinya Wanua Woloan melalui Festival Wanua Woloan 2025 sebuah perhelatan adat yang memadukan kekhidmatan tradisi dan semangat kebersamaan. Tahun ini, festival mengusung tema “Merawat Akar, Menjaga Tradisi” sebagai pengingat bahwa jati diri sebuah komunitas tumbuh dari akar budaya yang terus dijaga lintas generasi.
Pagi hari dimulai dengan prosesi “Meresi Wanua” ritual keliling kampung oleh pasukan kawasaran Siow Pa Siowan yang dipimpin Tonaas Frangky Wehantow. Dari Woloan Tiga hingga Woloan Satu Utara, langkah mereka menyusuri jalan Wanua bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan peneguhan batas-batas sejarah dan batin sebuah komunitas.
Prosesi berlanjut ke “Zumeta” di situs Kampung Tua Katinggelan kini dikenal sebagai Amphitheater Woloan tempat sakral yang menyimpan denyut awal kehidupan Wanua. Di sana, napas masa lalu berpadu dengan riuh generasi kini. Kemudian, ziarah ke waruga “Tingkulengdeng”, makam leluhur penanda berdirinya Wanua Woloan, mengingatkan semua bahwa berdiri di tanah ini berarti berdiri di atas jasa mereka yang telah lebih dulu berpulang.
Malam harinya, masyarakat berkumpul dalam tradisi “Kuman Wangko” makan bersama di atas daun. Sederhana, tetapi sarat makna. Hidangan di meja bukan sekadar makanan, melainkan simbol persatuan, penghormatan, dan rasa syukur bersama.
“Selama akar ini kita rawat, identitas kita tidak akan goyah. Anak muda harus menjadi garda terdepan menjaga warisan ini,” pesan Tonaas Frangky Wehantow, tegas namun penuh kasih untuk generasi penerus.
Ketua Sanggar Kamang Wangko Woloan sekaligus pelestari budaya di Kota Tomohon, Armando Loho, menegaskan: “Walaupun sederhana, perayaan ini tidak menurunkan nilai budaya Minahasa. Justru dari kesederhanaan kita bisa merasakan kemurnian tradisi leluhur. Selama kita tetap memegang teguh akar budaya asli Minahasa, generasi mendatang akan selalu punya identitas yang kuat dan tidak mudah tergerus arus globalisasi.”
Apresiasi juga datang dari masyarakat. Oktavianus Pusung menyampaikan, “Semua elemen terlibat tua, muda, laki-laki, perempuan. Ini kekuatan Woloan: gotong royong yang tak lekang oleh zaman.”
Jejak Sejarah yang Tak Terputus Festival Wanua Woloan bukanlah tradisi yang lahir kemarin. Akar perayaannya telah ada sejak ratusan tahun lalu dalam bentuk upacara adat penghormatan leluhur. Namun, sejak 2019, komunitas budaya setempat memformalkan perayaan ini setiap 9 Agustus.
Tanggal tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Angka “9” dianggap sakral dalam filosofi Minahasa, melambangkan kesempurnaan dan kesatuan. Momen ini pun bertepatan dengan rangkaian Tomohon International Flower Festival (TIFF), menjadikannya magnet budaya sekaligus pariwisata.
Bagi masyarakat Woloan, festival ini bukan sekadar panggung. Ia adalah “napas” yang menghidupkan kembali kisah masa lalu, sejalan dengan tema “Merawat Akar, Menjaga Tradisi”, agar warisan leluhur tetap hidup di tengah perubahan zaman.(*)










