Dr. Toto : Statsiun Penelitian Karangsari Bisa Jadi Rujukan Bagi Konservasi

FAKULTAS Kehutanan Universitas Kuningan (Fahutan Uniku) meresmikan Stasiun Penelitian Karangsari di Desa Karangsari, Kecamatan Darma Kuningan, Minggu (30/08/2020).

Dekan Fahutan Uniku, Dr. Toto Supartono, M.Si., mengatakan pembangunan stasiun penelitian di Karangsari dilatarbelakangi oleh berbagai faktor dan merupakan realisasi kerja sama Balai Taman Nadional Gunung Ciremai (TNGC) dengan Fakultas Kehutanan Uniku.

Gagasan pembangunan stasiun penelitian ini dilatarbelakangi oleh beberapa faktor. Yaitu pertama, memanfaatkan laboratorium lapangan yang sebenarnya sudah ada di TNGC ini. Yang kedua, melihat realita di Fakultas Kehutanan bahwa selama ini penelitian-penelitian dosen belum terfokus di satu tempat, walaupun memang sah-sah saja penelitian itu dilakukan dimana saja, tetapi alangkah baiknya bila penelitian itu fokus dilakukan di suatu tempat, sehingga nanti hasilnya akan lebih terlihat. Ketiga, melihat Gunung Ciremai memiliki potensi untuk dijadikan sebagai stasiun penelitian. Selain itu juga Fakultas Kehutanan memiliki harapan bisa berkontribusi didalam pelestarian keanekaragaman hayati di kawasan TNGC .

“Kementerian Kehutanan, merespon positif usulan dari Fakultas Kehutanan ini dan kita sudah mengajukan proposal termasuk draft kerja sama dengan Kementerian Kehutanan. Draft perjanjian ini sudah masuk ke Menteri dan mendapat respon positif ” , ujarnya.

Toto berharap Stasiun Penelitian Karangsari bisa menjadi rujukan bagi stasiun penelitian atau kawasan konservasi lainnya, imbuh dia. Stasiun penelitian yang dibuat oleh perguruan tinggi itu, biasanya diluar kawasan konservasi. Sementara, Fakultas Kehutanan Uniku dilakukan didalam kawasan konservasi dan lokasi yang dipilihnya itu bukan ekosistem yang masih bagus, tetapi justru ekosistem yang sudah berupa semak belukar sehingga disitu kita memiliki tantangan untuk bisa memulihkan ekosistem. Didalam pemulihan ekosistem jenis yang dipilihnya itu tidak sembarangan, artinya harus memenuhi kriteria-kriteria tersendiri yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

“Ketika kita berhasil memulihkan ekosistem atau merehabilitasi ekosistem dengan jenis-jenis tertentu, kami berharap ini bisa menjadi rujukan bagi kawasan-kawasan konservasi lainnya didalam pemulihan ekosistem,” harapnya.

Sementara itu, Wakil Dekan I Fahutan Uniku, Iing Nasihin, S.Hut., M.Si., mengatakan, dalam kurun dua tahun, puluhan penelitian sudah dihasilkan di Stasiun Penelitian Karangsari.

“Dari aspek akademik banyak sekali yang bisa digali sebagai bahan penelitian, baik bagi mahasiswa maupun bagi dosen itu sendiri. Sejak dua tahun terakhir ini, kita sudah melakukan banyak penelitian disini, mungkin sudah ada sekitar 10 skripsi yang sudah dihasilkan di stasiun penelitian ini. Kalau dosen, ada sekitar 8 artikel penelitian yang sudah diterbitkan di jurnal ilmiah,” jelasnya.

Lebih jauh, Iing mengatakan di stasiun penelitian ini mahasiswa bisa mempelajari hubungan timbal balik antara eksosistem intra dan inter ekosistem.

“Disini, mahasiswa bisa belajar sesuai minatnya, tentunya dalam lingkup kehutanan, karena kehutanan sendiri sekarang lingkupnya sudah semakin meluas, kalau dulu aspek kehutanan ini selalu berbicara tentang kayu sebagai produknya, sekarang lebih cenderung ke jasa ekosistem. Selain sebagai tempat penelitian, mahasiswa bisa mempelajari hubungan timbal balik antara eksosistem intra dan inter ekosistem, misalkan dari jasa lingkungan, air, wisata, dan lain sebagainya, sehingga bisa menjadi bekal bagi mereka sebelum terjun ke masyarakat”, pungkasnya. (H WAWAN JR).