Dito : Mengais Rupiah dari Pangkas Rambut

PROFESI sebagai Pemangkas Rambut di Kab Kuningan akhir-akhir ini tumbuh subur bagaikan ‘jamur’ di musim hujan. Betapa tidak. Hampir ditiap desa dan kecamatan dibeberapa titik di Kota Kuningan terdapat gerai  Barber Shop.

Sedikitnya tercatat ada 40 komunitas Barber Shop di Kuningan, namun yang aktif hanya setengahnya dengan jumlah anggota ratusan ‘tukang cukur’ tersebar ditiap kecamatan, yang didominasi oleh tukang cukur asal Garut.

Sedangkan orang Kuningannya sendiri sekitar 30 orang dan salah satunya yaitu, Crown  Barber Shop di kawasan Jl A Yani Kuningan.

Dito Sucipto (41) seorang ‘tukang cukur’ asal windujanten Kec Kadugede, mengaku,  profesi yang ditekuninya itu sejak usia SMP.  Berawal dari iseng memangkas rambut teman saat terkena razia rambut gondrong.

Ketimbang ke ‘tukang cukur’ mendingan oleh saya saja, tidak usah bayar alias gratis, kenang ayah dua anak ini ketika diwawancara di kiosnya, Minggu sore (28/12/2019).

“Dari sinilah saya mencoba menekuni secara otodidak dan pernah juga kerja di salah satu barber shop”, tutur Dito disela-sela kesibukannya.

Sebelum terjun sebagai ‘tukang cukur’, pernah kerja di SMA Kosgoro Kuningan sebagai staf. Namun tak lama keluar dan memutuskan untuk usaha sendiri.

“Dikios ini saya ngontrak sejak dua tahun silam, dengan peralatan pangkas, mesin cukur, manual, gunting, sisir, alat keramas dll modal Rp 30 juta an dari hasil nabung”, paparnya.

Penghasilan sehari-hari boleh dibilang lumayan meski banyak  pesaing, sehari minimal 10 Konsumen bahkan kalau lagi ramai bisa 15 orang perhari. “Total setiap bulannya rata-rata dapat 250 orang  dan maksimal bisa 300 orang”, ungkapnya.

“Rekues konsumen macem-macem ada yang minta natural, model cepak dsbnya taripnya disesuaikan dengan model rambut yang diminta konsumen yakni, standar Rp 25 ribu  hingga Rp 75 ribu”, ujar Dito.

“Motto kami pelanggan adalah raja, kami senantiasa memberikan yang terbaik dan kepuasan bagi konsumen”, tutupnya. (H WAWAN JR)

dialogpublik.com