Bayi Pejabat Kabupaten Bandung Barat nyaris tertukar

DICERITAKANYA pada wartawan, pada Kamis (7/3/2019) sore Ayi masuk RSCK setelah mengalami kontraksi. Ia masuk rumah sakit dengan menggunakan layanan BPJS kesehatan. “Saya masuk IGD sekitar jam tigaan (15.00 wib). Tapi masuk ruang rawat inap pas magrib. Dan melahirkan Jum’at (8/3/2019) jam 09.40. Bayinya laki-laki,” terangnya.

Sehabis melahirkan lanjut Ayi, Tidak langsung bisa memangku bayinya. Melainkan Bayi itu disimpan di ruang berbeda. Baru pada jam 17.09 wib, bayi itu dibawa ke ruangannya. Seketika ia mengambil bayi itu dan menyusuinya. Namun naluri keibuannya sangat kuat, disaat menyusui anak itu ada keanehan.

“Saya perhatikan anak itu, kok kulitnya agak gelap. Dan tiba-tiba saja tangan anak itu keluar dari balutan, Saya lihat gelang ditangannya bukan nama saya dan Bapak (Aseng). Jam kelahirannya pun berbeda”,terangnya.

Ternyata bayi itu memang tertukar. Seketika Ayi mengaku shok dan tubuhnya lemas. “Saya benar-benar shock ternyata bayi yang saya susui itu bukan anak kami,” tuturnya.

Hal itupun dibenarkan Aseng Djunaedi bapak dari sang Bayi yang juga menjabat sebagai Asisten 1 Bidang Tata Pemerintahan Kabupaten Bandung Barat (KBB) . Ia menyatakan kaget ketika buah hatinya sempat tertukar.

“Sewaktu si ade (bayi) dibawa sama suster, pantas saja merasa ada yang ganjil. Kok bisa ya, rumah sakit sekelas RSCK ini keliru begitu,” ujarnya dengan nada kesal.

Lebih lanjut Aseng menuturkan dengan kesalnya, Pihak manajemen Rumah Sakit Cahya Kawaluyaan (RSCK) Kotabaru Parahyangan-Padalarang yang mengabaikan pelayanannya. Pasalnya Sepekan lalu, istrinya, Ayi Ratna Kristiani (35) melahirkan bayi buah cinta mereka di RSCK.

Selama dirawat di rumah sakit tersebut, Ayi mengaku mendapat pelayanan yang kurang menyenangkan. Mulai sikap perawat yang kurang ramah, lalu harus menunggu lama di ruang Intalansi Gawat Darurat (IGD) bahkan hingga bayinya sempat tertukar dengan bayi orang lain.

Hal itupun dibenarkan Aseng, Kekesalan terhadap layanan RSCK tersebut memuncak kembali ketika kedatangannya yang kedua kalinya untuk berobat bayinya.

Dijelaskan Aseng, istri dan bayinya pulang ke rumah Minggu (10/3/2019). Namun karena kondisi kulit sang bayi berwarna kekuningan, Senin (11/3/2019) dibawa lagi ke RSCK. Disanalah puncak kekesalannya, karena selama berjam-jam sang bayi belum juga dibawa ke ruang perawatan. “Sang bayi masih disimpan di ruang IGD. Ia beberapa kali menanyakan ke dokter dan perawat jaga, namun kurang ditanggapi”. Jelas aseng.

Katanya nggak ada kamar dan sedang dipersiapkan di kamar 3207.”Saya cros chek ke ruangan. Ternyata sudah kosong karena memang pada saat sebelum saya nyebut pasen BPJS,” bebernya.

Aseng juga menyampaikan pada dokter jaga tentang hasil laboratorium bahwa anaknya perlu segera perawatan. Semestinya cepat ditangani. Tapi harus lama menunggu lagi.

Karena kesal kurang mendapat pelayanan akhirnya bayinya dipindahkan ke Rumah Sakit Advent Bandung untuk mendapat perawatan sebagaimana mestinya. Hingga berita ini diturunkan, bayinya telah kembali ke rumahnya.

Aseng menyesalkan, dokter jaga yang mengabaikannya tidak menunjukan itikad baik. Malahan pihak RSCK memberikan utusan menemui istrinya di Rumah Sakit Adven dengan menawarkan perawatan kembali di RSCK dengan dijemput ambulan.

“Istri saya tentu saja menolaknya karena terlanjur kecewa dan khawatir malah mengganggu kesehatan si ade(Bayi). Lagian ngapain juga mereka hanya memberikan utusan, bukan dokter jaga itu yang minta maaf. Ya tentu saja kita tolak,” ungkapnya.

Aseng menambahka, Jika dilihat dari prosedur penanganan pasien seperti itu, ada beberapa hal yang melanggar standar operasional (SOP) dari pelayanan RSCK tersebut. Mulai dari penanganan pasien hingga ke luar dari rumah sakit. “Biasanya ada formulir hang harus diisi pasien tentang kesan pesan terhadap pelayanan ini tidak ada,. Padahal saya tahu itu, karena saya juga pernah jadi direktur RSUD Ciereng Subang, jadi tahu SOP,” ucapnya.

Terkait tuntutannya, Aseng mengatakan dengan tegas demi perbaikan pelayanan di SRCK, ia meminta agar dokter itu dipecat saja

Sementara itu pihak Rumah Sakit Cahya Kawaluyaan Kota Baru Parahyangan Padalarang Ketika ditemui oleh beberapa awak media, Jumat (15/03/2019),melalui Kepala Humas dan Pemasaran Rumah Sakit Cahya Kawaluyaan, Erlinawati mengatakan kejadian yang menimpa keluarga Aseng adalah ketidaksengajaan.

“Pada dasarnya pihak Rumah Sakit mengutamakan pelayanan yang terbaik, Baik itu kepada pasien peserta BPJS maupun umum, Rumah Sakit berdasarkan cinta kasih tidak membedabedakan, Berbagai upaya kami usahakan yang terbaik buat masyarakat, dan itu merupakan amanat pimpinan Rumah Sakit kami”, ujarnya.

Terkait kelahiranya istri dari pak Asisten pihak rumah sakit mengakui kekuranganya. Dan pada waktu itu juga langsung secara kekeluargaan memohon maaf, atas ketidak puasan pelayanan rumah sakit.

“Makanya kami menjemput dengan membawa kendaraan ambulan untuk dirawat kembali dan itu pihak kami ada itikad baik “jelasnya.

Dan diakuinya juga bahwa waktu kejadian tersebut kebetulan pasien rumah sakit sangat membludak. Sehingga petugas medis ada beberapa pasen yang terlewatkan, “dengan kejadian tersebut sebetulnya pihak rumah sakit merasa dirugikan, karena kami ingin memberikan yang terbaik, kami merasa menyesal dengan kejadian tersebut.” ungkapnya.

Ditanya mengenai dokter yang menangani, apakah akan dikenai sanksi? ” Kami tidak bisa menjawab itu, ada dipimpinan dan manajemen Rumah Sakit”, pungkasnya. (tries)

Categories: Regional

dialogpublik.com