Banjir hingga Naiknya Harga Sembako dikeluhkan Masyarakat pada Reses H. Uya

DPRD Kabupaten Bandung kembali menggelar resesnya pada masa sidang ll tahun 2022. Reses kali ini relatif singkat, dari Senin (28/3) hingga Kamis (31/3).

Pada reses Anggota DPRD, H.Uya Mulyana aspirasi yang disampaikan warga bukan saja infrastruktur, tetapi “melejitnya” harga kebutuhan pokok jadi bahasan menarik.

“Hukum pasar, banyak permintaan harga pasti naik, ” jelas Uya saat reses di Desa Sayati, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, Senin(28/3/2022).

“Apalagi sekarang jelang. bulan Ramadhan , kebutuhan masyarakat semakin tinggi sehingga harga kian merangkak naik,” sambungnya.

Tidak hanya.di Desa Sayati, Uya menggelar resesnya di tiga titik desa lainnya. Yakni, Desa Cangkuang Kulon Kecamatan Dayehkolot, Katapang (Katapang) serta Desa Margaasih Kecamatan Margaasih.

Sekretaris Komisi B ini, berharap Dinas Perdagangan dan Industri (Disperindag) Kabupaten Bandung turun ke pasar untuk mengecek harga.

“Kalau harga tidak sesuail dengan yang ditentukan oleh Kementrian, mau tidak mau Disperindag harus bertindak, ” ujar.legislator PKB .

Tindakannya, bisa bersifat persuasif, “ngobrol lah”. Langkah lainnya, Disperindag kominikasi dengan pusat, menyamakan harga yang sesuai dengan ketentuan.

Seperti saat harga minyak naik, jelasnya, kan harus ada penekanan dari atas, baik dari pemerintah pusat, provinsi termasuk oleh Kabupaten Bandung.

“Tapi kemarin saya mendengar, harga minyak sudah stabil. Mudah-mudahan apa yang dibutuhkan masyarakat setidaknya sesuai dengan apa harapan. Jadi Disperindag harus sungguh-sungguh bekerja, ” tegasnya.

Aspirasi masyarakat soal “lompatnya” harga kebutuhan pokok, Uya berjanji akan disampaikan pada disperindag melalui nota komisi yang akan disampaikan pada pimpinan dewan.

Agar dinas tetsebut, segera mengambil tindakan untuk memcarikan solusinya.

Dalam reses yang dihadiri perangkat desa, tokoh masyarakat dan para konsituen itu, seorang warga menyampaikan aspirasi soal ba jir yang sering terjadi di Sayati.

“Banjir di Sayati ini , disebabkan sungai menyempit karena terhalang bangunan milik warga,” jelas Nandar warga Desa Sayati, Margahayu, Kabupaten Bandung.

Rumah tersebut jelasnya, kebanyakan tidak layak huni jadi jika terjadi banjih, nambah kumuh lingkungan Desa Sayati.

“Mudah – mudahan dengan didampaikan aspirasi ini bapak dewan memdengar agar secepatnya ada solusi,” tuturnya.

Sementara Uya menegaskan, pihaknya sudah memberikan bantuan pada 25 unit untuk perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu) di Margahayu, termasuk Desa Sayati. (nk)

dialogpublik.com